Sunday, January 23, 2011

Tangis Si Tua


Tepat mata memandang merah senja
Terbias dari mentari jingga
Sambil terduduk di gigi air
Menguis pasir yang kaku adanya
Biar semua berhamburan
Dan air yang mengalir berpercikkan
Mengocak ketenangan arusnya
Begitulah jiwanya kini
Penuh gundah memakan hati
Kedut seribu di wajah berkerutan
Menampakkan resah dan kerisauan
Apa yang bermain di fikirannya
Hanya dia tahu tapi tidak berkata
Diam membatu seribu bahasa
Puas sudah aku mendesak
Bergilir soalan mengasak
Jawapannya hanya air mata
Yang mengalir jernih di pipi kusam
Sambil tertunduk esak bersulam
Aku tidak lagi bertanya
Aku tidak mampu melihatnya
Air matanya terlalu mahal
Untuk dia titiskan
Air matanya terlalu perit
Untuk aku saksikan
Si tua itu benar tertekan.

Friday, January 21, 2011

Balas Senyumku.


Aku suka melihat mereka
Yang di depan mata
Mahu pun melintas sekali sekala
Tersenyum manis bukan sinis
Tertawa hingga mengalir air mata
Gembira dan riang sentiasa
Mungkin kerana kejayaan yang menyapa
Mungkin telah hilang semua derita
Aku tidak pernah bertanya
Sekadar menatap penuh makna

Harapkan seisi alam juga sama
Sentiasa dipenuhi senyum dan tawa
Lembut dan mempesona
Menambah indah yang sedia ada
Meringan sebongkah beban
Menyembuh sakit berlingkaran
Aku juga mengharapkan
Mampu tersenyum tertawa sedemikian
Dan ada yang membalasnya
Dengan penuh kedamaian.

Wednesday, January 19, 2011

Bermonolog Lagi.


Jarang sekali aku bermonolog
Terkadang berlaku tanpa sedar
Bila ada yang menganggu di fikiran
Bila ada yang kusut difikirkan
Kata sepatah demi sepatah
Keluar menyusur tanpa noktah
Tapi semuanya lesu lemah
Tidak mampu menunjuk arah
Tidak mampu membetul yang salah
Sambil merenung ke dalam diri
Tertanya-tanya kenapa begini
Dan tanpa sedar
Aku masih bermonolog sendiri.

Monday, January 17, 2011

Seksa Rindu.


Jalanku mungkin tidak lurus
Janjiku mungkin tidak tulus
Aku hanya insan serba kurang
Menumpang kasih menadah sayang
Sehingga saat ini masih terasa
Terseksa dek rindu yang membara
Rindu yang dilarang
Katanya walau sekali jangan dikenang

Rindu itu buatku derita
Jasad lemah jiwa tak berdaya
Kadang menghiris tajam
Kadang menghimpit mencengkam
Susah untuk membuang rasa
Yang datang mendamping tanpa diminta
Aku tertanya kenapa begini sukar?
Kenapa sayangku lambat pudar?

Tak mungkin mudah rindu itu tumbang
Masih utuh walau dihempas gelombang
Sangkaku sudah berhujung titik
Air mataku ulang menitik

Friday, January 14, 2011

Manusia;Kita


Dengan mereka aku bersama
Dalam pusingan kitaran manusia
Yang tinggi dan rendah
Yang cantik dan indah
Yang kaya dan sederhana

Dengan mereka aku belajar
Mengerti tentang hidup yang berputar
Tidak sentiasa di atas
Tidak juga kekal di dasar
Di lingkaran ini kita berputar

Dengan mereka juga aku fahami
Yang bertandang pasti pergi
Merentas hidup hujungnya mati
Dan juga tentang ketinggian ilmu
Tidak menjamin ketinggian pekerti

Asasnya kita sama
Hanya istilah zahir membawa beza
Dan persahabatan kita
Mengajarku erti segalanya
Menghapus persoalan yang menggila .

Wednesday, January 12, 2011

Hujan Kedamaian.


Terbit suatu perasaan
Melihat pepohon ditimpa hujan
Liuk lentok seakan bersorak
Rela diri dibasahi
Merayakan rahmat Ilahi
Itu nyawa baginya

Aku harap aku juga sepertinya
Ada hujan kedamaian
Menyubur benua yang gersang
Melerai minda yang kian runsing
Penawar untuk yang gering
Itu nyawa bagiku.

Tuesday, January 11, 2011

Dedaun Layu


Dedaun hati yang kian layu
Dicarik oleh sesuatu yang berlalu
Makin terasa hambar
Jelas makin pudar
Hanya satu saat mampu meluruhkan
Walau hanya angin yang menyapa
Tak perlu direntap hebat
Tangkainya telah lama tenat
Tidak esok lusa
Dedaun itu luruh juga
Menyembah hina dunia
Bergelumang lumpur penuh dusta.

Monday, January 10, 2011

Nada Yang Sama.


Lenggok alunan nada itu
Seakan tiada beza
Sama dari awal hingga akhirnya
Reaksi kalian?
Menerima tanpa bantahan
Bagai terpukau dengan keramahan
Sedangkan mereka tahu
Aku juga tahu
Tiada apa yang berbeza
Dan setelah berkurun lamanya
Disuap dengan nada yang sama
Aku ingin melontar diri jauh darinya
Tapi aku lihat mereka
Masih setia
Rela di situ bersama
Mendengar nada yang sama
Setiap hari setiap masa.

Sunday, January 9, 2011

Goodbye - Air Supply



I can see the pain living in your eyes
And I know how hard you try
You deserve to have so much more
I can feel your heart and I sympathize
And I'll never criticize
All you've ever meant to my life

I don't want to let you down
I don't want to lead you on
i don't want to hold you back
From where you might belong

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to say but goodbye

You deserve the chance at the kind of love
I'm not sure i'm worthy of
Losing you is painful to me

I don't want to let you down
I don't want to lead you on
i don't want to hold you back
From where you might belong

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to say but goodbye

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to try
Though it's gonna hurt us both
There's no other way than to say goodbye

Saturday, January 8, 2011

Pejam Dalam Jaga.


Pertama kali aku amati
Aku akui lunaknya bunyian
Yang datang menemaniku
Beriring angin bayu
Hampir terlena sebelum beradu

Pertama kali aku rasai
Ada yang setia walau bukan sesiapa
Masih berteman walau sendiri
Beriring kasih sedingin salju
Hampir gugur sebelum layu

Pertama kali juga aku hadapi
Derita dari keyakinan sendiri
Bak duri membelit tegang terhiris
Beriring selumbar berbisa
Hampir mati sebelum ajalku tiba

Semuanya dari kali yang pertama
Seharusnya aku sedar dari awalnya
Akibat pejam dalam jaga
Berpegang angan ilusi semata
Sekarang tewas dimamah derita.

Terima sahaja. :)

Monday, January 3, 2011

Melayu Sampai Mati.


Derai tangis berpaksi pilu
Darah menitis dari jiwa sengsara
Seksa batin melihat anak bangsa
Melarat di daerah hasil darah
Luka yang kecil merebak barah
Dulu yang gagah lesu tersadai
Yang dijaga rapi kini tergadai
Jangan biar api membakar
Rentung pucuk hingga ke akar
Rosak hancur ditelan masa
Tiada lagi dalam jiwa
Mencari cari ke mana perginya
Jati diri melayu kita
Kemelayuan dicemuh dihina
Dek perilaku insan sebangsa
Jaga jangan biar hilang
Kita asal bangsa terbilang
Dengar ingat pesan ibu
Jangan maruah jadi debu
Dulu kita digeruni seantero dunia
Sekarang kerdil segan disapa
Pegang kukuh semat di hati
Melayu kita sampai mati!.

Saturday, January 1, 2011

Esak Anakmu.


Tatkala tidak berteman
Dan unggas pun bersahutan
Otak ligat memutar kenangan
Rindu eratnya dakapan
Tulus mesranya kucupan
Kelopak mata mula berkaca
Laju titis jernih
Meniti di pipi manik putih
Membasahi sujudku
Bergenang di sudut kalbu

Tenanglah kau di sana
Bertamu di samping Nya
Aku hanya mampu berdoa
Meminta dipermudah segala
Takkan pernah pudar dari ingatan
Indah kasihmu tidak bersempadan
Semenjak pertama ditinggalkan
Selama jauh dari pandangan
Selagi itu aku merindu
Kucupan dalam dakapanmu
Wahai ibu.

Selamanya dalam ingatan.
Bondaku Azizah Ali (28.1.1953-28.1.2004)