Sunday, January 23, 2011

Tangis Si Tua


Tepat mata memandang merah senja
Terbias dari mentari jingga
Sambil terduduk di gigi air
Menguis pasir yang kaku adanya
Biar semua berhamburan
Dan air yang mengalir berpercikkan
Mengocak ketenangan arusnya
Begitulah jiwanya kini
Penuh gundah memakan hati
Kedut seribu di wajah berkerutan
Menampakkan resah dan kerisauan
Apa yang bermain di fikirannya
Hanya dia tahu tapi tidak berkata
Diam membatu seribu bahasa
Puas sudah aku mendesak
Bergilir soalan mengasak
Jawapannya hanya air mata
Yang mengalir jernih di pipi kusam
Sambil tertunduk esak bersulam
Aku tidak lagi bertanya
Aku tidak mampu melihatnya
Air matanya terlalu mahal
Untuk dia titiskan
Air matanya terlalu perit
Untuk aku saksikan
Si tua itu benar tertekan.